muhammadrafsanjani

ruang tamu maya


Tinggalkan komentar

Link download

buat teman-teman saya, khususnya, dan pengunjung sekalian, berikut beberapa aplikasi kaya manfaat, yang saya rekomendasikan untuk mengunduhnya.
laman buat download aplikasi-aplikasi tsb.
mobile:
kamus besar bahasa indonesia http://www.kejut.com/download/331
kamus bahasa inggris http://www.4shared.com/file/LD2oFyNh/_2__PD_English-Indonesia.html
yang bukan mobile:
kamus bahasa inggris http://www.softpedia.com/get/Others/Home-Education/Kamus.shtml
kamus bahasa indonesia http://ebsoft.web.id/kbbi-offline-1-3-perbaikan-tambahan-fitur/


Tinggalkan komentar

Idealisme Palsu

Akhir-akhir ini teman-teman FISIP ramai membicarakan soal sistem organisasi kampus yang akan menjadi sistem positif. Mayoritas mahasiswa ingin mempertahankanStudent Goverenmentsedangkan pihak kampus, khususnya rektorat, menghendaki penggantian SG dengan sistem Senat.
Alasan mahasiswa ingin mempertahankan sistem SG adalah, sederhana, sistem SGsarat akan nilai-nilai demokratis dan mereka percaya bahwa itu baik untuk pengalaman mereka. Begitu kira-kira pendapat tertangkap dari teman-teman yang ngotot setuju SG dipertahankan di forum yang sengaja dibuka di kelas saya—Ilmu Politik III B. Forum tersebut menurut saya merepresentasikan pendapat-pendapat se-FISIP.
Sebaliknya,rektorat,yang ingin mengganti sistem SG dengan senat berargumen bahwa universitas merupakan lembaga pendidikan yang harus fokus pada aktivitas keilmuan,sebab itu universitas harus bersih dari prakitk-praktik politis. Memang seperti yang diceritakan para mahasiswa pendahulu saya, para leluhur, SG ributnya jauh lebih hot dan terbuka.
Dari kedua pihak yang “bertikai” hemat saya ada persamaan dan perbedaan. Tapi di episode kali ini saya hanyaingin melihatbahan “berantem” tersebut dari beberapa sisi. Pertama, apa sebenarnya sistem organisasi kampus? Naif sangat, jika memperdebatkan hal yang tidak kita pahami. Kita harus memahami terlebih dahulu entitas keberadaannya, jangan sampai hanya ikut-ikutan senior atau teman jamaah mahasiswa tertentu menjadi landasan pendapat untuk mendukung salah satu isu yang ada, bahkan sampai ikut aksi,heroik bak mahasiswa ’98, ke rektorat.
Kedua, untuk apa organisasi kampus? Kita harus mengklarifikasi kebutuhan mahasiswa FISIP yang mungkin terpenuhi oleh OK atau tidak. Tidak seperti berjalan sendiri-sendiri—antara mahasiswa dan organisasinya. Dan bukan sekedar formalitas terdapatnya kepengurusan di lembar kertas struktur organisasi.
Ketiga,apakah OK jalan yang baik sebagaipemenuh kebutuhan mahasiswa? (kenapa harus OK?). Saya rasa keberadaan OK, jika dipandang dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa, pengurusnyabukan hanya sekedar jadi panitia pada acara semacam seminar-seminar saja. Saya yakin pekerjaan semacam itu bisa dilakukan oleh mahasiswa baru peserta PROPESA.
Ngerinya, jangan-jangan, argumen-argumen dan pilihan yang dikemukakan hanayalahkedok untuk menutupi hasrat materi pragmatis kelompok atau pribadi saja. Celaka. Kalau dugaan ini benar? Saya teringat al-Ghazali, “sesungguhnya kerusakan yang terpimpin disebabkan oleh kerusakan pemimpinnya … kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan. Siapa yang dikuasai oleh ambisi duniawi, ia tidak akan mampu mengurus rakyat.”
Maksud saya mengutip pendapat di atas adalah ingin mengingatakan akan bencana yang kelak terjadi—bila dugaan benar—bukan hanya menimpa mahasiswa FISIP saat ini saja, tetapi merupakan masalah yang mendera pada agenda yang jauh lebih besar, “…terciptanya masayarakat sejahtera…” seperti kumandang Buruh Tani yang diputar-nyanyikan oleh mahasiswa, mahasiswa dulu dan sekarang.
Bukan lebay. Tapi kebiasaan itu merupakan noktah yang kelak membesar menjadi budaya jika dibiarkan. Menjadi pembenar dan pelestari kelakuan para politisi sekarang yang sama-sama kita kutuk di kelas dan di jalan-jalan.